Lompat ke isi utama

Berita

Dari Luka ke Keadilan: Pelajaran Memaafkan Hudzaifah untuk Para Pengawas Pemilu

foto

Paser, 23 Oktober 2026 – Bagaimana tetap objektif ketika hati sedang terluka? Pertanyaan itu mengiringi refleksi spiritual daring jajaran Bawaslu, Jumat (23/10/2026), yang dipandu narasumber Firman, M.Ling, Anggota Bawaslu Kabupaten Paser, lewat kisah sahabat Nabi, Hudzaifah bin Al-Yaman.

Dalam Perang Uhud, ayah Hudzaifah terbunuh secara tidak sengaja oleh pasukan Muslim. Hudzaifah memilih memaafkan: menahan amarah, memahami kekeliruan, dan menjaga persatuan. Pelajarannya, jangan cepat menilai, sebab keadilan memerlukan kejernihan hati.

Bagi pengawas pemilu, kisah ini dinilai relevan. Setiap telaah, keputusan, dan sikap ikut menjaga demokrasi serta rasa adil dalam pemilu. Materi menutup bagian ini dengan pengingat: jabatan berakhir, pertanggungjawaban tidak. Yang tersisa setelah masa jabatan selesai adalah reputasi yang terjaga, keteladanan dalam bertindak, budaya kerja yang positif, dan catatan amal di hadapan Allah.

Di akhir sesi, peserta diajak berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri: apakah saya masih bisa dipercaya, apa yang sedang merusak hati saya, dan apakah saya tetap benar saat tak ada yang melihat.