Fitnah Bergerak Lebih Cepat, Bawaslu Diingatkan Teguh Menjaga Integritas
|
Tana Paser 23 Oktober 2026 – Derasnya arus informasi di era digital menjadi ujian tersendiri bagi penyelenggara pengawasan pemilu. Hal ini mengemuka dalam refleksi spiritual daring jajaran Bawaslu, Jumat (23/10/2026), bersama narasumber Firman, M.Ling, Anggota Bawaslu Kabupaten Paser.
Dalam materi, “fitnah zaman ini” disebut bergerak lebih cepat dan hadir dalam beberapa bentuk: informasi palsu dan manipulasi, kepentingan dan tekanan politik, godaan uang, jabatan, dan popularitas, serta media sosial sebagai medan ujian.
Untuk menghadapinya, peserta diajak berkaca pada Hudzaifah bin Al-Yaman, sahabat Nabi yang sangat waspada terhadap keburukan demi menjaga kebaikan. Kewaspadaan itu dipahami sebagai disiplin mengenali risiko, bukan berburuk sangka.
Materi juga memuat tiga prinsip menjaga rahasia sebagai bagian dari integritas: rahasia bukan alat kekuasaan pribadi, integritas diuji ketika peluang salah terbuka, dan kepercayaan publik dijaga dalam diam. Konsistensi disebut sebagai jembatan antara nilai yang diucapkan dan keputusan yang diambil, yaitu melakukan yang benar walau tanpa pengawasan.
Pesan penutupnya, amanah hendaknya dikerjakan dengan takut kepada Allah, bukan sekadar karena manusia. Ketakwaan dinilai menjaga seseorang ketika aturan tak terlihat, pujian tak datang, dan tekanan terasa paling kuat.